Harga Bahan Pangan Akhir Tahun Bergejolak

By on December 15, 2017

PURWOKERTO- Menjelang Natal dan tahun baru, harga kebutuhan pokok masyarakat mulai bergejolak. Gejolak harga pangan harus diwaspadai, agar laju inflasi akhir tahun dapat terkendali. Berdasarkan pengamatan di Pasar Manis Purwokerto, Jumat (15/12), kenaikan harga terjadi pada komoditas beras, telur, dan daging ayam ras. Harga komoditas tersebut naik sejak sepekan terakhir.

iou

Harga eceran beras IR 64 medium dari Rp 10.000, sekarang naik menjadi Rp 11.000 per kilogram, telur ayam ras sebelumnya Rp 20.000 per kilogram, namun kini naik menjadi Rp 26.000 per kilogram, sedangkan daging ayam ras dari Rp 30.000 naik menjadi Rp 34.000 per kilogram.

“Harga komoditas minyak goreng, mi instan, gula pasir cenderung stabil,” kata pedagang sembako di Pasar Manis Purwokerto, Agus Priyanto (29). Dia menambahkan, kenaikan harga bahan pangan secara bertahap.

Tidak dalam waktu sehari naik signifikan. “Dalam jangka waktu seminggu telur sudah naik Rp 6.000 per kilogram. Biasanya kenaikan ini akan berlangsung lama sampai awal Januari. Ini sudah biasa terjadi saat menghadapi Natal dan tahun baru,” ujarnya.

Persediaan Menipis

Begitu pula pada komoditas beras. Dia menuturkan, saat ini beras masih bertahan tinggi, karena sekarang sudah tidak memasuki musim panen. Persediaan gabah di petani sudah menipis. “Gabahnya saja sekarang sudah mahal, otomatis harga beras yang dijual juga mahal,” tuturnya.

Pedagang daging ayam di Pasar Manis Purwokerto, Dwi Prasetyo (32), menuturkan, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi oleh peningkatan permintaan konsumen. “Permintaan barang sekarang meningkat, sehingga harganya naik. Tapi pasokan di pasar tidak berkurang,” katanya.

Dia setiap hari menyediakan 50 kilogram daging ayam ras. Persediaan itu pun saat ini habis dalam sehari. “Kalau pedagang tidak masalah harganya naik, asal barang dagangannya laris. Kalau harganya tinggi tapi permintaan lesu, itu baru pedagang mengeluh,” ujarnya.

Pemilik kandang ayam di Patikraja, Yanto, menuturkan, kenaikan harga ayam karena biaya operasionalnya sekarang tinggi, yaitu sekitar Rp 100 juta. Di samping itu, serapan pasar khususnya ke luar daerah tinggi. “Saya memiliki 4.000 ayam. Setiap 36 hari panen. Ayam hidup banyak dikirim ke luar kota,” katanya.

Dia menambahkan, harga ayam hidup di kandang saat ini berkisar Rp 20.000 hingga Rp 23.000 per kilogram. Padahal, sebelumnya Rp 17.000 – Rp 18.000 per kilogram. Terkait dengan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat pada akhir tahun, Pemerintah Kabupaten Banyumas akan giat memonitor harga dan pasokan di pasaran.

Kepala Bagian Perekonomian Setda Kabupaten Banyumas, Pardiyono, kepada wartawan, mengatakan, hasil monitor bahan kebutuhan mulai dari sembako hingga pasokan gas elpiji masih mencukupi sampai dengan Natal dan tahun baru.

Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir karena semua barang tersedia. Selain itu, pemerintah kabupaten menggelar operasi pasar beras di pasar tradisional yang bekerja sama dengan Bulog Banyumas. “Kami sudah rapat dengan Bulog Banyumas, sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan beras sudah siap,” ujarnya.

Secara terpisah, Deputi Kepala Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Purwokerto, Fadhil Nugroho, mengemukakan, untuk Desember 2017, tekanan inflasi yang berasal dari beras kemungkinan akan sedikit berkurang, mengingat pada bulan tersebut beberapa tempat di eks karesidenan Banyumas sudah akan memasuki masa panen.

Namun masih cukup tingginya curah hujan di wilayah Banyumas dan sekitarnya diperkirakan akan meningkatkan tekanan inflasi yang berasal dari komoditas bumbu-bumbuan dan sayur-mayur. Hal ini masih ditambah dengan masuknya siklus Natal dan tahun baru yang cenderung mendorong kenaikan permintaan. “Karena itu, kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),” kata dia.

 

Sumber : Suara Merdeka

About Thomson Purwokerto