300 Pelaku Wisata Terancam Kehilangan Mata Pencarian

By on December 9, 2017

PURWOKERTO- Pelaku wisata di kawasan Baturraden menggelar aksi solidaritas penolakan penggusuran 32 vila dan hotel di timur objek wisata Lokawisata Baturraden. Mereka membentangkan sejumlah spanduk di jalur wisata menuju kawasan tersebut.

x28SM09L17BMS-02.jpg.pagespeed.ic.MkZGPPCTTM
PROTES PENGGUSURAN : Spanduk bernada protes dipasang di sejumlah tempat di kompleks Vila Lokawisata Baturaden, Banyumas, Jumat (8/12). Protes dilayangkan atas kebijakan Pemkab Banyumas yang melakukan penyegelan dan penggusuran vila-vila tersebut.

Ketua Paguyuban Jagabaya Baturraden, Amir M mengatakan, akibat dari penyegelan, lebih 300 pelaku wisata di kawasan Baturraden terancam kehilangan mata pencarian. 120 orang di antaranya bekerja sebagai penjaga vila dan hotel.

“Mulai dari pedagang, tukang pijat, pemandu wisata, sampai calo kan banyak yang kerja di sini, ada 300 orang lebih. Mereka dari 12 desa penyangga wisata Baturraden, rata rata warga Desa Kemutug, Karangmangu, Karangtengah. Kalau yang kerja jadi penjaga hotel dan vila ada 120 orang,” ujarnya, ketika ditemui Jumat (8/12).

Menurut Amir, sebelum mengusir para pengelola dan pekerja vila di Baturraden seharusnya Pemkab Banyumas ikut mencari solusinya. Pasalnya, sejak muncul surat perintah untuk mengosongkan vila, tidak ada satupun tamu yang menginap. Penjaga Vila Virgo, Aslim (55) mengatakan, meski belum disegel, sebulan ini vilanya belum menerima tamu.

“Saya kerja juga was-was. Tamu jadi takut menginap, hanya lewat saja. Saya menjaga vila ini 39 tahun. Kok diusir begitu saja,” tuturnya. Aslim meminta kelonggaran kepada Pemkab Banyumas hingga bulan Januari. Sehingga dia bisa mencari rejeki pada malam pergantian akhir tahun.

Dia menuturkan, masa sewa vila yang berdiri di atas tanah milik Pemkab Banyumas itu telah habis tahun 2014. Empat bulan lalu, pemilik maupun karyawan dikumpulkan oleh Badan Keuangan Daerah Banyumas dan diminta mengosongkan vila.

Penataan Lahan

“Setelah itu muncul Surat Peringatan 1 (SP1) tanggal 14 November dan SP 2 tanggal 24 November. Semuanya tidak ada tanda tangan Bupati Banyumas, tidak ada SP3, tahu-tahu ada tujuh vila yang disegel,” katanya.

Penjaga hotel Indraprasta, Sudirno (48) mengatakan, hotel yang menjadi satu-satunya mata pencahariannya tersebut disegel oleh personel Satpol PP, Dinporabudpar Banyumas, disaksikan perangkat kecamatan dan desa, Senin (3/12) lalu.

Dia mengaku tidak menerima surat peringatan ketiga (SP3) sebelum penyegelan. “Saya tidak tahu apa-apa, tahutahu ada Satpol PP datang. Saya tanya SP3 nya mana, katanya ini SP3 nya, lalu disegel,” kata dia.

Terkait hal ini, Kepala Bidang Pariwisata, Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Dinporabudpar) Kabupaten Banyumas, Saptono mengatakan, 32 vila tersebut menempati lahan milik Pemkab Banyumas.

Para pemilik vila diminta untuk mengosongkan kawasan seluas 20 hektar tersebut karena akan dilakukan penataan. “Nantinya mau ditata, DED nya juga sudah ada. Rencananya untuk perluasan lahan parkir, penginapan remaja, motel, dan sentra jajanan. Arealnya ada sekitar 20 hektare,” ujarnya.

Saptono mengatakan, penataan kapling vila tersebut ditangani oleh bidang aset Badan Keuangan Daerah Banyumas. Namun, dia mengaku belum ada keputusan terkait rencana pengelolaannya.

 

Sumber : Suara Merdeka

About Thomson Purwokerto